Nodus Tollens: Bagian Dua, Clarus

nt-2

Nodus Tollens

Author: eviloshhd

Cast: Oh Sehun, Luhan

Rated: M

Summary:

Berawal dari eksperimen gila dari sebuah perusahaan yang ternyata berhasil, tapi hal yang terjadi selanjutnya malah diluar prediksi. HunHan/Yaoi/Vampire!AU/A little bit Sci-Fi.

Bagian Dua: Clarus

Ketika Sehun masih kecil, dia seringkali berfantasi hidup di dunia dongeng dengan banyak makhluk mitos yang menjadi kawan-kawannya, termasuk vampir, werewolf, peri dan masih banyak makhluk lain yang dalam pikiran polosnya nyata. Dalam dunia imajinernya, makhluk-makhluk itu kesemuanya baik, mereka semua mengayomi Sehun yang notabene anak pemalu yang sedikit susah untuk memulai sebuah pembicaraan dan pergaulan. Dunia imajiner Sehun lantas membuatnya lebih sering menyendiri di salah satu sudut panti yang menghadap ke sebuah jalan setapak menuju hutan. Menatap pepohonan rimbun yang ia yakini dibaliknya banyak peri yang akan membuat bunga-bunga bermekaran indah pada musim semi.

Ketika Sehun mulai beranjak dewasa, dia mulai paham jika khayalan masa kecilnya tak lebih dari sebuah fatamorgana. Sehun mulai berhenti mempercayai eksistensi makhluk-makhluk yang menemani masa kecilnya dan memulai kehidupan baru dengan pemikiran yang lebih realistis. Namun sekalipun begitu, kebiasaan menyendirinya tetap tidak pernah berubah. Dia lebih suka menghabiskan waktu di kamarnya dengan membaca, membawa dirinya menyelam ke dalam setiap untaian kata yang terususun apik disetiap lembar halamannya.

Keterdiaman dan sifatnya yang penyendiri itu yang kemudian membuatnya tidak begitu dikenal meskipun dia sudah menghabiskan lima belas tahun hidupnya di panti yang telah menampungnya. Bahkan ketika dia tahu dia mengidap leukemia, Sehun masih tetap diam. Sama sekali tidak memiliki keinginan untuk melaporkan keadaannya kepada sang pengasuh. Dia membiarkan dirinya tersakiti dan berjuang seorang diri. Karena menurutnya, tidak akan ada yang merasa kehilangan sekalipun tubuhnya nanti akan berubah menjadi abu. Dia bahkan telah berencana untuk mati dengan tenang di kamarnya ketika dia sadar bahwa semakin hari tubuhnya semakin lemah. Bisa dikatakan jika dia tumbuh menjadi seorang yang memiliki rasa optimisme rendah.

Namun ternyata takdir berkata lain. Suatu hari Sehun terbangun di tempat yang benar-benar asing, dengan tubuh yang sama sekali tidak terasa nyeri seperti sebelum-sebelumnya. Dia bahkan merasa dirinya begitu sehat. Sehun kebingungan –tentu saja, namun hal-hal yang terjadi dikehidupannya selanjutnya lebih membuatnya kehilangan kata untuk bicara. Dimulai dari dia yang telah dinyatakan bebas penyakit leukemia, mendapat tempat tinggal baru, pekerjaan, dan berbagai hal lain yang membuatnya seringkali tertegun.

Tapi di atas itu semua, ada hal lain yang benar-benar mengguncang diri Sehun. Adalah fakta jika dirinya saat ini bisa hidup karena darah vampir yang diinjeksikan ditubuhnya. Jika sebelumnya Sehun merupakan pemuda tanpa tekad, maka saat ini, setelah kesembuhannya Sehun memiliki satu hal yang benar-benar ingin dicapainya. Dia ingin mengenal sosok yang telah menyelamatkan hidupnya.

-oOo-

“Dia Xiao Lu, vampir yang darahnya digunakan untuk menyembuhkanmu,” Suho berujar sambil menatap foto yang masih berada digenggaman Sehun. “Dia memesona,” ungkapnya lagi, setelah Sehun tidak memberikan respon apapun atas pernyataannya. “Kalau saja dia manusia, mungkin aku akan mengkonsiderasikannya untuk menjadi teman kencan, atau bahkan teman hidup.” Candanya lagi, namun lagi-lagi pemuda yang ada di sebelahnya hanya bergeming dengan mata tajam yang masih terfokus ke objek yang berada dalam genggamannya.

“Sehun?” Suho memanggil, ditepuknya bahu lebar milik Sehun hingga membuat pemuda itu terkejut.

“Huh? Apa hyung mengucapkan sesuatu?” Tanyanya, sedikit tergagap.

Suho tersenyum kecil dan menggeleng. “Tidak ada,” sekali lagi Suho menepuk bahu Sehun. “Kau sebaiknya istirahat saja, mungkin kau masih terlalu terkejut dengan ini semua sehingga tidak tahu harus bersikap bagaimana. Aku benar ‘kan?”

Sehun mengangguk kecil, terlihat malu karena Suho dapat dengan mudah membacanya layaknya sebuah buku yang terbuka.

“Tidak usah terlalu dipikirkan, lagi pula kesempatanmu untuk bertemu Xiao Lu lebih kecil dari pada mencari jarum dalam tumpukan jerami. Aku yakin dia ke Roma atau Italia, di sana terdapat markas besar vampir atau semacamnya. Aku tidak terlalu paham tentang hal itu-”

Tidak, dia di sini. Sangat dekat dan aku telah bertemu dengannya.

“-tapi jika spekulasiku benar, mungkin dia memang ke sana untuk memulihkan diri, karena ya… mungkin saat kita menggunakan darahnya untuk eksperimen, bisa dibilang kami menyiksa dia secara fisik dan psikologis.”

“Menyiksa…?” Kata itu begitu menyita perhatian Sehun sehingga tanpa sadar dia mengucapkannya dengan keras dan menatap Suho dengan tatapannya yang menuntut.

“Ya,” Suho mendesah halus. “Kami menguncinya di ruangan yang terisolir, menyuntiknya dengan cairan perak yang bisa melumpuhkannya selam berjam-jam agar dia tidak kabur, memberinya darah mayat yang hampir beku sebagai makanannya agar dia semakin lemah, dan masih banyak hal lain. Pernah sekali aku mendengar bagaimana dia merintih dan begitu terlihat kesakitan ketika salah satu rekanku menyuntiknya dengan cairan perak yang telah dicampur dengan kloroform. Pada saat itu… I thought he was close to dying.” Suho mengucapkannya sambil menatap langit-langit apartemen, menerawang kembali wajah tersiksa Luhan yang sangat membekas dalam ingatannya.

Terutama rintihan itu…

Suho kembali mendesah halus. “Tapi ternyata Xiao Lu adalah sosok yang kuat. Dia masih mampu bertahan dan sejujurnya itu membuatku kagum. Setelah melihat betapa tersiksanya Xiao Lu, aku kemudian mengajukan diri agar aku saja yang menanganinya. Aku orang yang mudah merasa tidak tega, jadi aku tidak pernah mencampurkan kloroform dalam suntikannya. Aku merasa itu juga yang membuat Xiao Lu kemudian sedikit bersikap lunak kepadaku. Tapi ya, kau tidak akan pernah bisa mempercayai seorang vampir, dia tetap saja kabur di akhir.” Suho mengakhiri ceritanya dengan tawa kecil.

Sehun diam mendengarkan, setiap kalimat yang terlontar dari bibir Suho ia serap lamat-lamat dan ia simpan baik-baik dalam ingatan. Setelah mendengarkan sedikit kisah dari Xiao Lu, entah kenapa Sehun semakin penasaran dengan sosoknya. Sebenarnya, Sehun telah memiliki gambaran bahwa Xiao Lu akan memiliki kepribadian yang dingin dan kejam, namun hal itu tidak menyurutkan niatan Sehun untuk mencarinya. Sehun ingin bertemu, berbicara, berterima kasih dan juga… meminta maaf.

-oOo-

Keinginan Sehun untuk bertemu Xiao Lu harus terjegal banyak hal. Salah satunya adalah minimnya informasi yang ia ketahui tentang sosok tersebut. Dia hanya tahu nama, fakta bahwa dia seorang vampir dan juga fakta bahwa dia begitu memesona. Nama Xiao Lu mungkin bisa ia jadikan hal utama untuk mencari keberadaannya karena tidak mungkin Sehun dengan jujur mengatakan bahwa dia sedang mencari vampir, orang-orang bisa menganggapnya gila. Berbekal hal tersebut, Sehun akhirnya melangkahkan kakinya menuju kantor walikota dan ke bagian administrasi penduduk untuk menanyakan apakah ada orang yang bernama Xiao Lu yang tercatat menjadi penduduk kota pada Kamis sore.

Sehun awalnya gugup, karena biasanya bukan dia yang mengawali pembicaraan dengan orang asing. Namun ketika staf di sana memberikan senyuman tipis, Sehun merasa sedikit tenang meskipun rasa gugupnya masih belum hilang sepenuhnya.

Sehun mengambil nomor antrian, lantas duduk di tempat yang disediakan sembari menunggu gilirannya dipanggil yang untungnya tidak terlalu lama karena tak banyak orang yang datang pada sore hari. Bahkan Sehun bisa dikatakan sebagai orang terakhir yang datang. Sehun pun mendudukkan dirinya di depan petugas yang memiliki papan nama Kim Jongdae. Sehun mengernyit, wajah orang di depannya sama sekali tidak terlihat seperti orang Korea, dia lebih terlihat kalau dia berasal dari Tiongkok. Mengenyahkan pikiran tidak pentingnya, Sehun memberikan senyuman tipis yang dibalas dengan ramah oleh laki-laki di depannya.

“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” Tanyanya ramah, Sehun mengangguk mengiyakan.

“Saya sedang mencari alamat seseorang, tapi saya hanya mengetahui namanya.” Ungkap Sehun, Jongdae menganggukkan kepalanya paham lalu membuka data penduduk yang memuat seluruh penduduk di Hongdae baik penduduk tetap maupun pengunjung di komputer miliknya.

“Boleh saya tahu nama orang yang Anda cari?”

“Namanya Xiao Lu.” Jawab Sehun, dia melewatkan raut terkejut Jongdae karena dia terfokus pada apa yang ditampilkan komputer Jongdae.

“Xiao Lu?” Ulang Jongdae, Sehun mengiyakan dengan gumaman ringan dan mata yang masih terfokus pada layar komputer.

Jongdae menuliskan nama Xiao Lu ke bar pencarian namun tidak ada hasil yang ditemukan. Sehun terlihat menyerah, tanpa sadar dia menghembuskan napas sedikit keras dan sedikit menundukkan kepalanya. Melihat itu, Jongdae menepuk bahu Sehun sehingga pemuda itu menatapnya.

“Apa orang yang Anda cari ini Orang Tiongkok?”

Sehun menggeleng kecil. “Saya tidak tahu, saya hanya tahu namanya.”

Kali ini Jongdae yang kemudian menghela napas. “Maaf jika saya lancang, tapi bolehkah saya menanyakan alasan kenapa Anda mencari Tuan Xiao Lu?”

“Saya hanya ingin berterima kasih dan meminta maaf,” jawabnya tanpa perlu berpikir. Namun sedetik kemudian, sebuah realisasi menghantam Sehun sehingga pemuda itu membulatkan matanya penuh dan beralih menatap Jongdae. “Anda mengenal Xiao Lu?!”

Jongdae, tanpa disangka bersikap tenang dengan pertanyaan Sehun yang baru saja diajukan kepadanya dan tersenyum tipis. “Jika Xiao Lu yang kau maksud dengan yang ku maksud sama,” Jongdae tidak lagi bersikap formal kepada pemuda dihadapannya. Tangannya ia lipatkan di depan dada dengan kepala yang sedikit miring ke samping. “Maka lebih baik kau hilangkan saja keinginan untuk bertemu dengannya.”

Dingin.

Ucapan Jongdae terasa begitu dingin dan itu membuat Sehun lagi-lagi terkejut.

“Tapi kenapa?” Kali ini Sehun kembali terkejut, namun dia lebih terkejut akan dirinya sendiri. Baru kali ini dia berani untuk membalas ucapan orang lain yang mengganjal dihatinya.

Jongdae tertawa kecil, tawa yang terlihat begitu meremehkan hingga Sehun kesal dibuatnya. “Jika kau masih sayang dengan nyawamu, maka sebaiknya kau kubur dalam-dalam keinginanmu itu. Tapi jika kau sudah bosan dengannya, kau bisa menemukannya di tempat di mana itu yang tergelap namun bersinar.”

“Maksud-”

“Time’s up, Tuan. Sampai jumpa dan selamat beraktifitas kembali.” Potongnya, lantas meninggalkan Sehun yang termangu.

-oOo-

Pikiran Sehun kacau.

Beberapa hari ini dia terbebani dengan pekerjaan yang semakin hari semakin banyak, namun dia juga tidak bisa mengenyahkan perkataan Jongdae dari pikirannya. Tempat tergelap namun bersinar, satu lagi petunjuk yang ia dapatkan namun sayangnya petunjuk itu malah menambah teka-teki baru. Sebenarnya Sehun sudah menulis daftar kemungkinan tempat-tempat tergelap yang berada di sekitar tempat tinggalnya, namun tidak menutup kemungkinan juga jika tempat tergelap itu berada di luar regional Seoul. Sehun hampir saja menyerah.

“Kau terlihat stres akhir-akhir ini.” Jongin memberikan Sehun minuman kaleng ketika mereka makan siang di kantin.

“Terima kasih,” Sehun memberikan senyuman tipis. “Ya, akhir-akhir ini pekerjaan sedikit menumpuk.”

“Kau bohong,” Jongin berkata enteng. Dia memakan nasinya lahap meskipun dia sadar jika Sehun saat ini menatapnya terkejut. Setelah menelan makanannya, Jongin mengarahkan sumpit ke Sehun kemudian berkata. “Aku tahu kau sedang kebingungan mencari seseorang. Stres yang kau alami bukan dari pekerjaan karena aku tahu dengan baik kau sangat mampu untuk melakukannya. Jadi sekarang katakan padaku, siapa yang kau cari?”

“Dari mana kau tahu?” Alih-alih menjawab, Sehun malah balik memberikan pertanyaan kepada Jongin yang ditanggapi dengusan oleh pemuda itu.

“Anggap saja aku cenayang, oke? Jadi aku tahu segalanya tentangmu termasuk warna celana dalam yang kau pakai sekarang. Jadi, siapa?”

“Aku tidak mengenalnya,” Sehun pada akhirnya menjawab. “Tidak mengenal secara pribadi maksudnya, namun yang jelas orang ini telah berjasa besar dalam hidupku.”

“Apa kau tidak memiliki pentunjuk apapun tentang keberadaannya atau sesuatu yang mungkin bisa membawamu kepadanya?”

“Aku hanya tahu namanya dan seseorang mengatakan kepadaku jika aku bisa menemuinya di tempat di mana itu yang tergelap namun bersinar.” Sehun mendesah halus, teringat bahwa itu masih menjadi sebuah teka-teki yang sepertinya akan memakan waktu untuk terpecahkan.

“Puncak Insubong, Gunung Bukhansan,” celetuk Jongin. “Itu salah satu tempat tergelap ketika malam hari. Kau benar-benar tidak bisa melihat apapun di sana ketika mendung. Tapi ketika kau datang ke sana ketika langit sedang cerah, kau bisa melihat banyak kunang-kunang dan bintang yang bersinar. Sayang sekali tempat itu sekarang ditutup.”

Sehun terlihat berpikir sejenak. Bisa jadi tempat yang baru saja disebutkan Jongin memang tempat Xiao Lu berada. Tapi ada satu hal juga yang menggelitik Sehun untuk tidak ditanyakan kepada Jongin. “Kenapa tempat itu ditutup?”

“Akhir-akhir ini banyak pembunuhan di sana. Polisi tengah menyelidiki hal itu namun mereka hanya menemukan jalan buntu. Korban-korban yang meninggal sama sekali tidak ditemukan sidik jari atau apapun yang bisa membawa mereka ke tersangka. Tapi kau tahu, semua korban itu terbunuh dengan cara yang sama. Leher mereka tersayat lebar, namun tidak berdarah. Keadaan mayatnya juga sangat memprihatinkan, tubuh mereka terlihat kisut dan begitu pucat seolah darah mereka telah habis diminum.” Jongin bergidik ngeri setelahnya. “Siapa yang tega melakukan hal mengerikan seperti itu, ya?” Jongin bertanya, lebih ke dirinya sendiri.

‘Ternyata memang benar.’ Sehun berujar dalam hati. Dan dia tahu, tahu dengan pasti siapa pelakunya.

Pasti itu adalah sosok yang dicarinya.

-oOo-

Sehun memilih hari Sabtu sebagai hari di mana dia akan pergi ke Puncak Insubong karena esoknya dia tidak harus ke kantor untuk bekerja. Dia tidak membawa perbekalan terlalu banyak karena sesungguhnya, setelah dia sembuh dari sakitnya, dia hampir tidak pernah merasakan lelah ataupun lapar. Energinya seolah tidak habis-habis. Sehun juga memutuskan untuk menggunakan jalan memutar untuk ke Puncak Insubong karena di yakin jika jalur utama masih berada dalam inspeksi polisi.

Melewati jalan setapak, Sehun menatap sekitar karena siapa tahu jika Xiao Lu tiba-tiba menampakkan dirinya. Namun sampai hari hampir gelap, Sehun sama sekali tidak menemukan tanda-tanda keberadaannya. Hingga kemudian, Sehun telah sampai ke tempat yang di maksud ketika langit jingga baru berubah warna menjadi gelap yang perlahan-lahan mulai padat. Sehun menyalakan lampu portable yang dia bawa, sembari menikmati udara alam yang terasa segar. Menikmati angin di daerah puncak yang rasanya belum pernah dia rasakan.

Ketika Sehun baru akan membuka tas yang berisi perbekalan miliknya, sekelebat bayangan yang melewati ranting-ranting seketika mengambil alih perhatiannya. Napas Sehun tiba-tiba tercekat, rasa takut yang mati-matian ditekannya muncul dan membuatnya duduk tak bergerak seolah sebuah patung. Sehun menghela napasnya, bisa jadi ini hari terakhir dia hidup jika mendengar bagaimana orang-orang yang berakhir mati di sini terbunuh dengan tragis.

Sehun berjingkat ketika mendengar suara ranting terinjak di belakangnya. Dia ingin menoleh, namun rasa takutnya masih menguasai sehingga dia hanya melirik dari sudut mata saja. Semuanya terjadi dengan cepat, Sehun tiba-tiba terpelanting dengan sebuah sayatan lebar di leher. Sehun memegangi lehernya dan meringis perih. Tapi itu hanya terjadi untuk sementara karena lukanya tertutup dan kembali normal dengan cepat.

Sehun menghela napas lega, sepertinya dia tidak akan mati malam ini. Sehun lantas melepaskan tangannya yang masih memegangi leher, melihat darah yang tadi sempat mengalir lalu melihat sekitar. Mencari sosok yang menyerangnya karena dia kini sedikit lebih berani. Sehun berjingkat lagi, kali ini penyerangnya tiba-tiba muncul di hadapannya dengan iris mata merah yang memendam rasa benci.

Dan ternyata benar.

Dia memang Xiao Lu.

“T-tuan Xiao Lu

Sosok di depannya mendecih. “Aku tebak Suho telah menceritakan semuanya kepadamu?”

Sehun menganggukkan kepalanya takut-takut. “Ya, dia sudah menceritakannya.”

“Menjijikkan,” Xiao Lu mendesis kecil. “Kau tidak seharusnya hidup, kau tahu.” Ujarnya, nadanya sedikit meninggi. “Kau bahkan bukan manusia lagi,” setelah mengatakan ini, Xiao Lu terbahak mengerikan, menunjukkan taring-taring tajamnya yang bisa saja ia gunakan untuk mengoyak tubuh Sehun.

“Bukan manusia?”

“Tentu saja bukan,” sahutnya sinis. “Kau hidup dengan dan dari darahku. Tentu saja kau bukan sepenuhnya manusia lagi. Tapi jangan harap kau akan menjadi bagian dari kami, kasta kami terlalu tinggi untuk dicampuri makhluk rendahan dan tak berguna seperti kalian.”

Sehun termenung. Bibirnya terbuka, lalu tertutup kembali karena tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk membalas kalimat Xiao Lu.

“Kau menakutinya, Lu Han.” Satu suara asing tiba-tiba muncul dari balik pepohonan. Menginterupsi apa yang terjadi antara Luhan dan Sehun.

The fuck?! Sudah berapa kali aku mengatakan untuk tidak memanggilku dengan nama asliku, Kim Jongdae!” Luhan menoleh ke belakang, ke pepohonan yang dari baliknya kemudian keluar sosok berjubah hitam dengan tudung kepala yang ia buka setelah berada di dekat Luhan dan Sehun.

“Kau juga masih sering memanggilku dengan nama manusiaku seperti yang baru saja kau lakukan, jadi aku rasa kita impas.” Balasnya, lantas tersenyum mengejek dan mengalihkan pandangannya kepada Sehun. “Kita bertemu lagi.” Ungkapnya kemudian.

“Anda…”

“Staf administrasi penduduk di kantor walikota yang kau temui tempo hari,” Jongdae tertawa lagi. “Terkejut?”

Sehun hanya bisa mengangguk. Sedangkan Luhan memutar bola matanya.

“Percuma. Kita tidak bisa memangsanya, lebih baik ke tempat lain saja,” Ungkap Luhan tiba-tiba. “Lagi pula aku jengah melihatnya. Hidup dengan darah yang bahkan tidak pantas untuk mengalir di tubuhnya yang rusak.”

Jongdae tertawa keras. “Luhan… Luhan, kau lucu sekali. Kau tahu-”

Shut the fuck up!” Luhan mencekik kerah jubah Jongdae, mata merahnya terlihat jika dia bisa saja menguliti Jongdae.

Jongdae tertawa kecil, dia melirik Sehun yang hanya menatap mereka dengan raut wajah yang sangat memancarkan bahwa dia tidak tahu apa yang harus dia perbuat. “Hei, Manusia. Bukankah tempo hari kau mengatakan jika kau ingin berterima kasih dan meminta maaf kepada Luhan?”

Mata Sehun membulat, kepalanya mengangguk cepat lalu dengan sigap dia berlutut. Hal itu menarik perhatian Luhan yang tangannya masih mencengkram kerah jubah Jongdae dengan kuat. Sehun menghela napas panjang, dia menatap Luhan tepat di mata merahnya meskipun sejujurnya saat ini hatinya masih ketar-ketir takut. “Tuan Luhan, aku ingin mengucapkan terima kasih karena aku bisa kembali hidup. Aku juga ingin meminta maaf,” Sehun menjeda kalimatnya sejenak untuk menyelami mata Luhan yang meskipun berkilat marah namun tetap indah. “Maaf karena gara-gara orang sepertiku, yang seperti kau katakan tadi tidak pantas untuk hidup, kau jadi ikut menderita.”

Luhan melepaskan cengkramannya kepada Jongdae dengan kasar, lantas melangkah dengan langkah lebar-lebar kepada Sehun dan berganti mencengkramnya. “Menderita?” Ulangnya. “Kata menderita saja tidak cukup untuk menggambarkan betapa tersiksanya aku disana, kau bajingan!” Luhan mendorong Sehun dengan kasar hingga punggung pemuda itu terbentur batu yang menyebabkannya meringis kesakitan.

Tanpa banyak bicara, Luhan memberikan tatapan kebencian terakhir kepada Sehun sebelum kemudian menghilang dari dua orang yang masih berada di sana.

“Kau tidak apa-apa?” Jongdae mengulurkan tangannya untuk membantu Sehun bangkit. Sehun menerimanya sambil mengucapkan terima kasih dengan lirih. “Anggaplah kau beruntung karena darah Luhan membantumu untuk tidak seperti manusia-manusia lemah lain.”

“Maksud Anda? Apa saya sekarang bukan manusia?”

“Kau manusia,” ungkap Jongdae. “Tapi kau akan berbeda dengan manusia pada umumnya. Kau akan memliki kemampuan regenerasi berkali-kali lipat lebih cepat. Itu menjelaskan mengapa lukamu cepat sembuh.” Jelasnya.

Sehun seketika merasa lega. Tidak bisa dipungkiri bahwa ketika Luhan mengatakan bahwa dirinya bukan lagi seorang manusia, dia tiba-tiba merasa khawatir dengan masa depannya nanti. Dia sempat berpikir apakah dia nanti akan berubah menjadi vampir dan menjadi bagian dari mereka, namun Luhan juga menyanggah bagian itu. Tapi kini segalanya telah jelas. Dia tetap manusia, hanya sedikit berbeda.

“Tapi,” satu kata dari Jongdae kembali menarik atensi Sehun. Sehun kembali memperhatikan pria itu dengan seksama. “Kau berpotensi membuat perang antara kaum vampir dan manusia pecah.”

“Bagaimana bisa?”

“Kau tahu, Luhan saat ini diincar baik dari golongan manusia dan golongan vampir,” Jongdae kembali menjelaskan. “Kesembuhanmu tentu membuat ilmuwan-ilmuwan gila itu semakin mengicar kami dan berencana menngkap kami dalam skala besar untuk dijadikan sapi perah untuk menyelamatkan manusia-manusia yang sekarat. Sedangkan orang-orang dari Victorie mengincar Luhan karena dia dianggap sebagai dalang terungkapnya identitas kami dipublik. Aku yakin jika Victorie akan memenggal kepala Luhan begitu dia tertangkap tanpa diadili.”

Melihat raut khawatir Jongdae, Sehun mau tidak mau menjadi merasa bersalah. Karena meskipun dia juga bisa dibilang sebagai korban, tapi berkat dia juga lah potesi perang itu muncul. Terlebih Luhan yang saat ini keselamatannya terancam. Sehun merasa dia adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas semua itu.

“Tuan Jongdae,” panggil Sehun pelan, Jongdae menatapnya dengan tanda tanya. “Bisakah Anda membantu saya?”

-oOo-

Sehun melihat rumah yang ada di depannya. Terlihat normal tanpa ada indikasi jika rumah ini ditinggali oleh seorang vampir. Rumah yang terletak lumayan jauh dari pusat kota ini bahkan terlihat asri dengan bunga-bunga yang terawat apik di pekarangannya. Membenarkan posisi ranselnya, Sehun masuk ke dalam pekarangan rumah tersebut tanpa permisi. Ketika dia telah berada di depan pintu, Sehun menghela napas panjang lantas memencet bel rumahnya perlahan.

Sehun bisa mendengar langkah pelan yang perlahan mendekati pintu. Dadanya menjadi berdebar meskipun dia sudah menyiapkan semua ini selama beberapa hari terakhir. Pintu terbuka, menampilkan sosok Luhan yang terlihat normal dengan kaos polos dan celana pendek bercorak tentara. Rambutnya tidak diatur sehingga menutupi dahinya, dia terlihat begitu manusia.

Manusia yang memesona.

Luhan membulatkan matanya, irisnya yang tadi berwarna cokelat muda langsung berubah menjadi merah. Lagi, dia menatap Sehun dengan penuh rasa benci. “Untuk apa kau kesini?” Ketusnya.

“Tuan Luhan,” Sehun menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. “Izinkan aku untuk tinggal denganmu.”

.

.

.

TBC

Author’s note:

Anyway, semoga readers sekalian suka ya dengan ceritanya. Terima kasih banyak telah membacaaaa. Luv Luv Luv :*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s