Nodus Tollens: Bagian Satu, Anoma

nt-2

Nodus Tollens

Author: eviloshhd

Cast: Oh Sehun, Luhan

Rated: M

Summary:

Berawal dari eksperimen gila dari sebuah perusahaan yang ternyata berhasil, tapi hal yang terjadi selanjutnya malah diluar prediksi. HunHan/Yaoi/Vampire!AU/A little bit Sci-Fi.

Bagian satu: Anoma

Abad ke-22 seharusnya menjadi abad yang lumrah bagi sesuatu yang tidak mustahil menjadi mustahil. Namun begitu, tetap saja segala ketidakmustahilan yang berhasil dipatahkan masih seringkali membuat manusia-manusia tercenung dan berpikir, ‘bagaimana itu bisa terjadi?’ di otak mereka.

Termasuk Sehun.

Apa yang baru saja dialaminya seharusnya bukanlah menjadi sesuatu yang mengejutkan jika dia berpikir mungkin dia telah menjadi obyek eksperimen dan telah diberikan obat yang bermacam-macam oleh para ilmuwan. Tapi tetap saja, hal itu tetap membuatnya terguncang di samping ada suatu kelegaan dari hatinya bahwa dia tidak lagi berada diambang kematian. Sehun, yang saat ini masih berbaring di atas ranjang tempat dia bangun tadi masih termenung dengan memandang langit-langit ruangan yang didominasi oleh warna putih. Hatinya gamang, dan juga takut akan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi selanjutnya karena dia tidak tahu apa yang akan dia hadapi nanti.

“Oh Sehun?”

Suara berat menyapa indra pendengaran Sehun hingga membuat pemuda itu menoleh. Satu alisnya terangkat –tanda bahwa dia tidak mengenal sosok yang baru saja menyebutkan namanya dengan fasih.

“Anda… siapa?”

Sosok tadi tersenyum simpul, ekspresinya berubah begitu kontras dari pada saat dia menyapa Sehun untuk yang pertama kali tadi –arogan.

“Perkenalkan, namaku Kris,” ujarnya, lantas menjulurkan tangan untuk menjabat tangan Sehun. “Aku yang membawamu kemari.” Lanjutnya saat tangan Sehun bersambut dengan tangannya.

“Anda… Anda yang menyelamatkan saya?”

Kris menggeleng sambil tertawa kecil. Untuk beberapa hal Sehun merasa tidak suka mendengar tawa itu, tawa itu terasa… jahat? Entahlah, Sehun tidak menemukan kata yang tepat untuk mengungkapkan alasannya tidak menyukai laki-laki yang berdiri disampingnya.

“Bukan, bukan aku yang menyelamatkanmu. Aku hanya orang yang punya uang untuk memfasilitasi jalannya.”

Sehun terdiam, bingung bagaimana menanggapi kalimat Kris sehingga laki-laki itu hanya menatap si pria berambut pirang.

Kris menatap Sehun balik dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada, mengamati raut kebingungan itu dari ujung rambut hingga ujung kaki itu lantas mengguman kecil. “Kau benar-benar tidak terlihat pernah memiliki leukemia stadium akhir, anak kecil,” Tukasnya. “Agaknya hipotesa ilmuwan gila itu benar juga kalau darah dari makhluk menjijikkan itu bisa digunakan untuk menyokong hidup makhluk agung seperti manusia.”

“Ma… makhluk menjijikkan?” Pertanyaan Sehun keluar bagai bisikan lirih, tidak yakin apakah dia diizinkan untuk mengetahui siapa atau apa makhluk menjijikkan yang dimaksud.

“Ya, makhluk menjijikan yang hidup tapi tidak hidup.” Tanpa disangka, Kris menjawab pertanyaan Sehun sekalipun tetap meninggalkan ambiguitas yang kental dalam kalimatnya. Sehun terlihat masih ingin bertanya lebih jauh namun ragu, Kris pun melihat gelagat itu namun memilih untuk tetap diam. “Sebaiknya kau istirahat, anak kecil. Setelah ini akan ada banyak tes yang harus kau jalani.”

Sehun hanya mengangguk takut-takut sebagai respon, kepalanya lantas menunduk –menghindari tatapan Kris entah bagaimana mampu membuatnya ciut.

Kris masih memicingkan mata dan melipat kedua tangannya di depan dada ketika Sehun membaringkan diri lalu memunggunginya. Kris pun lantas mengendikkan bahunya dan memilih untuk pergi dari ruangan. Sehun menghela napas panjang ketika mendengar suara pintu ditutup perlahan, lalu memegangi dadanya yang berdebar sedikit cepat dari sebelumnya. Mungkin karena dia merasa takut dengan aura intimidatif pria yang menurut perkiraannya berusia jauh lebih dewasa.

Sehun masih berusia sembilan belas tahun, dan takut akan banyak hal.

-oOo-

“Halo, Sehun. Bagaimana keadaanmu hari ini?”

Lagi-lagi Sehun didatangi orang asing yang tidak dikenalnya. Tapi kali ini yang mendatanginya memiliki wajah yang ramah dan senyuman yang hangat, seratus delapan puluh derajat berbeda dari Kris yang suara beratnya bisa saja memberi Sehun mimpi buruk. Sehun pun membalas senyum pria yang diasumsikan sebagai seorang ilmuwan jika melihat dari pakaian yang dikenakannya. Jas putih panjang persis seperti apa yang biasa dia lihat di film sci-fi.

“Baik.” Jawabnya singkat.

Pria tadi tersenyum, lalu menarik kursi yang terletak di samping ranjang Sehun dan duduk diatasnya. “Namaku Suho ngomong-ngomong,” ujarnya memperkenalkan diri. “Aku adalah salah satu orang yang akan menangani dan mengamati perkembanganmu selama beberapa bulan ke depan.”

Sehun membuka mulutnya, mengucapkan ‘ahh’ panjang tanpa suara sambal mengangguk paham. “Jadi beberapa bulan ke depan aku akan dirawat disini?”

Suho menggeleng. “Tidak, perawatan dengan metode konvensional seperti itu sudah kuno, kami akan memberimu apartemen untuk ditinggali dan memberikanmu sebuah pekerjaan untuk mengetahui seberapa jauh tingkat kesembuhan dan adaptasi tubuhmu dengan dunia luar pasca sembuhnya leukemia. Kami akan mengamati apakah sistem imunmu sudah benar-benar tahan dengan berbagai virus dan potensi penyakit-penyakit lain. Kau akan hidup seperti orang normal pada umumnya nanti dan kau tidak akan merasa terawasi, tenang saja. Tapi mungkin kami akan mengunjungimu setiap minggu untuk melakukan pemeriksaan rutin.”

“Lalu, berapa persen kemungkinan bahwa aku telah benar-benar sembuh dan bisa berjalan dengan bebas di luar?”

“Sejujurnya… kami belum tahu tentang hal itu.” Suho mengatakannya ragu, matanya menangkap ekspresi terkejut Sehun dan segera menimpali perkataannya dengan kalimat lain. “Tapi grafik peningkatan kondisimu bisa dibilang sangat mengagumkan. Kau mungkin telah mendengarkan hal ini dari Tuan Wu, tapi sungguh, kau benar-benar seperti tidak memiliki rekam jejak penyakit mematikan. Sangat sehat.”

Sehun mengangguk kaku. Entahlah, sekalipun rasanya melegakan karena dia bisa kembali hidup tanpa khawatir seperti saat dia masih mengidap leukemia, tapi tetap saja masih ada kemungkinan dia terkena hal-hal lain yang bisa saja lebih berbahaya. Pikiran dan perasaan Sehun terpecah belah. Antara khawatir, takut, namun juga ada sedikit rasa bahagia. Tapi diatas itu semua, ada hal yang lebih menyita pikiran Sehun lebih dari apapun.

“Tuan Suho,”

“Cukup panggil ‘hyung’ saja. Tidak perlu terlalu formal.”

Sehun kembali mengangguk kaku. “Hyung,

“Ya?”

“Apa… siapa…” Sehun ragu untuk bertanya, sedangkan Suho menunggu laki-laki pemalu itu untuk menyelesaikan kalimatnya. “Bagaimana aku bisa sembuh? Maksudku… apa ada yang mendonorkan sumsum tulang belakang kepadaku atau apa?”

Suho terkejut dengan pertanyaannya, Sehun bisa melihat itu. Namun pria mungil itu segera menutupi dengan senyuman ramahnya. “Ada orang baik,” ungkapnya, tangannya mengusak rambut halus Sehun yang berwarna kemerahan. “Dia menyumbangkan darahnya kepadamu untuk mengganti sel-sel darahmu yang rusak.”

“Jadi dia manusia?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Sehun tanpa bisa dikendalikan. Sedangkan Suho sekali lagi harus dibuat tersentak dengan sebuah pertayaan tidak terduga.

Suho pun berdeham, untuk pertama kaliya matanya menghindari tatapan penuh ekspektasi Sehun.

“Hyung?” Sehun memanggil Suho kembali, dan kali ini Suho mendesah ringan.

“Dia seperti manusia.” Jawab Suho kemudian.

Alis Sehun terangkat satu. “Seperti?”

“Ah,” Suho tiba-tiba berdiri. “Aku lupa jika ada laporan yang masih harus ku kerjakan. Maaf ya, tidak bisa menemanimu lebih lama. Selamat istirahat lagi, Sehun.” Pamitnya, lalu pergi tanpa mengatakan apapun lagi.

Sehun terdiam, dia paham betul kalau banyak rahasia yang masih belum terbongkar. Sehun penasaran –tentu saja, tapi dia tahu dia tidak bisa melakukan apapun tentang itu. Sehun menghela napas panjang, mungkin pilihan terbaik saat ini hanyalah bersabar. Suatu saat dia pasti akan mengetahuinya.

Ya, dia yakin akan hal itu.

-oOo-

“Jadi, mulai hari ini kau akan tinggal disini.” Suho menunjukkan apartemen yang akan menjadi tempat tinggal baru Sehun. Sedangkan Sehun sendiri menganga karena menurutnya apartemen di daerah sibuk seperti Hongdae dan bisa dibilang cukup mewah seperti ini pasti memiliki biaya sewa yang mahal. Sehun tidak yakin akan sanggup membayarnya.

Suho, yang rupanya paham dengan gerak-gerik Sehun terkekeh kecil. “Tidak usah khawatir dengan biaya sewa. Apartemen ini dibeli untukmu, bahkan status pemiliknya adalah dirimu, kau dipersilakan memiliki ini meskipun penelitian kami telah berakhir. Surat kepemilikannya ada di lemari, kau bisa melihatnya sendiri kalau mau,” Suho menepuk bahu Sehun. “Yang perlu kau tanggung sendiri hanya biaya listrik dan air, serta kebutuhanmu sendiri. Tapi aku rasa gaji di perusahan Tuan Wu akan lebih dari cukup untuk membiayai itu semua.”

Sehun masih terdiam, dia menatap Suho dan terlihat ingin mengatakan sesuatu namun ia urungkan. Suho kembali menepuk bahu bidang Sehun sekali lagi. “Kenapa kau diam saja? Apa kau tidak suka dengan apartemennya? Kita bisa mengganti dengan yang lain kalau kau mau.”

Sehun menggeleng cepat. “Bukan, sungguh bukan begitu,” Sehun menunduk, menggigit bibir lalu melihat Suho takut-takut. “Semua ini hanya…”

“Hanya?”

Sehun terlihat berpikir sejenak, sebelum kemudian menatap Suho dan berujar, “terlalu banyak. Aku bahkan tidak tahu apakah aku pantas mendapatkannya atau tidak. Dan… aku tidak tahu bagaimana harus berterima kasih.”

“Kami yang berterima kasih padamu, Sehun. Berkat kau, hipotesa dan penelitian yang kami lakukan selama bertahun-tahun menemui titik terang. Ini hanyalah sebagian dari rasa terima kasih kami.”

Sehun lagi-lagi tidak tahu harus menanggapi. Oleh karena itu dia hanya tersenyum kikuk dan membiarkan tawa Suho berderai.

“Sudahlah, tidak usah kau pikirkan. Lebih baik sekarang kau beristirahat karena besok hari pertamamu bekerja. Kau tidak ingin membuat kesan yang buruk di hari pertama ‘kan?” Sehun mengangguk sebagai jawaban. “Aku pulang dulu kalau begitu, kalau ada apa-apa langsung saja hubungi, apartemenku ada di lantai 6.”

-oOo-

Hari pertama Sehun bekerja sebagai salah satu anggota divisi keuangan di cabang perusahaan Tuan Wu, Sehun dikenalkan kepada karyawan yang bernama Jongin yang rupanya juga akan menjadi rekan sejawatnya. Umur mereka pun hanya terpaut satu tahun. Sehun merasa, Jongin akan menjadi teman yang baik jika dilihat dari betapa ramahnya dia mengenalkan Sehun seluk beluk kantor yang berakhir pada satu ruangan terakhir yang akan menjadi tempat kerjanya nanti. Ruangan itu memiliki empat meja yang tiga dari empatnya sudah tersusun banyak berkas dan map. Sehun yakin jika meja yang masih kosong itu untuk dirinya.

“Jadi ini adalah mejamu,” dugaan Sehun tepat, Jongin mengatakan jika meja itu memang mejanya. “Di sebelah kananmu nanti ada Minseok dan di sebelah kirimu ada Kyungsoo. Mejaku sendiri tepat berada di sebrang mejamu.”

“Terima kasih, Jongin.” Sehun memberikan senyum kecil kepada rekan barunya.

“Tidak masalah, kau sekarang bagian dari kami lagipula. Jika kau menemui kesulitan, silakan saja meminta bantuan ke salah satu dari kami.”

Sehun mengangguk paham. Dia kemudian menempati mejanya dan melihat sekeliling. Pandangannya pun terhenti ke jalanan Hongdae yang bisa dia lihat dengan jelas di balik dinding kaca tempatnya bekerja. Hati Sehun tiba-tiba menghangat. Mungkin, mungkin saja, setelah ini kehidupan normalnya yang sempat tersita karena leukemia akan kembali normal. Ada senyuman kecil yang terbentuk dibibirnya ketika memikirkan kemungkinan tersebut. Setidaknya, untuk saat ini dia cukup bahagia.

-oOo-

Dulu, ketika Sehun hanya bisa terbaring lemah di rumah sakit dikarenakan penyakit yang dideritanya. Dia sering kali membayangkan, akan bahagia rasanya jika dia bisa berjalan-jalan di kota dan membeli barbagai macam makanan yang dijajakan di sepanjang jalan. Dan sekarang, setelah dia dinyatakan bahwa dia telah bisa hidup normal kembali, Sehun bisa merasakan bagaimana angan-angan itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang konkret.

Setelah pulang dari kantor jam enam sore tadi, Sehun tak lantas menuju huniannya maskipun jarak antara perusahaan dan tempat tinggalnya hanya sekitar dua ratus meter. Dia lebih memilih untuk berjalan-jalan, mengamati hiruk pikuk kota yang ia rindukan. Sehun juga menyempatkan diri untuk membeli macam-macam jajanan yang dulu tidak bisa dimakannya karena sakit. Salah satu yang paling dirindukannya adalah odeng, makanan yang terbuat dari ikan itu adalah salah satu makanan kesukaannya di waktu kecil.

Berjalan perlahan, Sehun menghirup dalam-dalam udara malam Hongdae dan menghembuskannya pelan-pelan. Rasanya sudah lama sekali dia tidak seperti ini, rasanya benar-benar seperti terlahir kembali. Dengan kedua telapak tangan yang ia masukkan ke dalam mantel panjangnya, Sehun kembali menyusuri Mural Street yang kanan kirinya banyak dipenuhi grafitti karya mahasiswa Universitas Hongik. Sehun banyak melihat pasangan-pasangan yang sepertinya sebaya dengannya saling berjalan bergandengan dan berfoto bersama di graffiti-graffiti tersebut. Sehun tersenyum, mungkin suatu hari dia akan mendapatkan pasangannya sendiri dan akan mengajaknya berkecan disini seperti yang lain.

Sehun masih terpukau dengan hal-hal disekelilingnya sehingga tidak memperhatikan apa yang ada di depannya. Tanpa sengaja, dia menabrak seseorang yang membuat mereka berdua hampir saja terjatuh jika Sehun tidak dengan sigap memegangi laki-laki yang ditabraknya.

“Anda tidak apa-apa? Maafkan saya, saya benar-benar tidak sengaja.” Sehun memeriksa laki-laki didepannya untuk memastikan bahwa dia baik-baik saja.

“Get the fuck off!” Sentaknya sembari menepis tangan Sehun. Orang asing itu sempat menatap Sehun dari ujung kepala hingga kaki dan terlihat seperti mencium sesuatu. Laki-laki itu lantas mendecih, meludah sembarangan lalu melihat Sehun dengan mata yang berkilat penuh kebencian. “Menjijikkan.” Desisnya lalu pergi begitu saja.

Sehun terpaku, terlalu tergugu dengan apa yang baru saja terjadi kepadanya.

-oOo-

Sehun mengguyur dirinya dengan air dingin. Kata ‘menjijikkan’ yang dilontarkan orang asing tadi entah mengapa terus terngiang-ngiang di dalam ingatannya. Sehun juga masih ingat dengan jelas bagaimana ekspresi laki-laki itu saat melihatnya. Awalnya dia mengira jika tubuhnya mengeluarkan bau badan yang kurang sedap, namun setelah dia memeriksa dirinya sendiri, tubuhnya bahkan masih menguarkan bau parfum Abercrombie & Fitch yang ia pakai.

Sehun menyandarkan kepalanya ke dinding kamar mandi, membiarkan punggung bidang telanjangnya terguyur air sembari mencoba mendinginkan kepala. Sebenarnya, ada hal lain yang membuatnya bertingkah seperti ini. Entah kenapa, saat dia bertatapan dengan orang asing tadi, dia merasa kenal dengan orang asing itu. Padahal seratus persen yakin jika mereka sama sekali belum pernah bertemu sebelumnya.

Hanya saja tadi itu…

Semuanya jadi terasa aneh.

Mendesah pelan, Sehun memutuskan lebih baik setelah ini dia beristirahat saja. Mungkin saja tadi itu hanya perasaannya.

-oOo-

Sehun memakan makan siangnya dengan malas-malasan. Sejak kemarin, Sehun sama sekali tidak bisa mengenyahkan ingatan itu dari pikirannya. Jongin yang menemani Sehun makan siang dan melihat gelagat tidak nyaman itu pun akhirnya berusaha untuk mencairkan suasana dengan mengajak Sehun bicara.

“Kau tahu,” Jongin memulai, dia melirik Sehun dan mendapati laki-laki berusia sembilan belas tahun itu mulai memberikan perhatian kepadanya. “Aku sudah cukup lama bekerja disini, sekitar tiga tahun lalu dan pada saat itu usiaku masih tujuh belas tahun. Aku tidak bisa melanjutkan jenjang pendidikanku di SMA karena waktu itu aku tidak memiliki biaya, tapi kemudian perusahaan ini mau membiayaiku untuk mengambil kursus keuangan dan sebagai gantinya aku harus bekerja disini. Dan sekarang hidupku sudah cukup nyaman sekalipun aku tidak memiliki gelar.”

Sehun tersenyum kecil. “Kau beruntung sekali rupanya, pasti kau bahagia.”

“Tentu saja,” Respon Jongin dengan senyuman lebar. “Menurutku, perusahaan ini adalah perusahaan paling baik yang pernah ada.” Lanjutnya lalu mengunyah makanan yang ada didepannya. “Tapi kau tahu, perusahaan ini juga sering mendapatkan rumor-rumor aneh. Tapi aku yakin jika rumor aneh itu hanya karena orang lain iri dengan kesuksesan dan reputasi yang dimiliki.”

“Rumor aneh?” Sehun mengulang, Jongin menatap Sehun dan mengangguk sebagai jawaban. “Rumor aneh macam apa?”

“Aku pernah dengar jika perusahaan ini memiliki markas khusus di daerah terpencil untuk melakukan eksperimen. Kalau tidak salah eksperimen menyembuhkan pasien penyakit leukemia dengan darah vampir. Rumor yang sangat tidak masuk akal.” Tuturnya, Jongin melewatkan ekspresi terkejut Sehun karena dia kembali memakan udonnya. “Lagi pula,” lanjutnya. “Makhluk seperti vampir tidak akan ada di abad ke-22. Bumi sangat panas, aku yakin mereka tetap akan terbakar menjadi abu sekalipun itu malam hari. Benar ‘kan, Sehun?”

“Sehun?” Jongin memanggil Sehun sekali lagi karena laki-laki itu tidak memberi respon. Jongin memicingkan matanya ketika mendapati Sehun malah terlihat melamun sehingga ditepuknya bahu laki-laki itu hingga dia terkjut.

“Huh? Ya, kau benar. Itu tidak mungkin.” Sehun refleks menjawab gugup, dia menghindari tatapan Jongin, sedangkan Jongin sendiri hanya mengndikkan bahu karena itu.

-oOo-

Sehun memotong wortel sembari menunggu kedatangan Suho yang berkata bahwa dia akan berkunjung hari ini untuk memeriksa Sehun. Karena tidak terlalu fokus, tangan Sehun tidak sengaja ikut teriris pisau yang membuat darahnya kemudian mengucur cukup banyak. Tanpa berpikir panjang, Sehun langsung memasukkan jarinya yang terluka ke dalam mulutnya agar darahnya berhenti mengalir. Setelah Sehun tidak lagi merasakan rasa asin darah, Sehun pun melihat jari telunjuknya dan terperangah.

Lagi, luka yang ia yakini menganga cukup lebar tadi kini hilang tak berbekas.

Terlalu terkejut, tanpa sengaja ia menjatuhkan pisaunya hingga menimbulkan suara dentingan gaduh. Bersamaan itu, Suho masuk ke dalam apartemennya dan segera berlari untuk melihat apa yang terjadi kepada Sehun.

“Kau tidak apa-apa?!” Dengan sigap Suho memeriksa tubuh Sehun untuk mengcek apakah ada yang terluka.

“Aku tidak apa-apa,” Sehun berujar lirih, hal itu menghentikan apa yang Suho baru saja lakukan. “Hanya… hanya tadi aku terkejut dengan serangga yang lewat diatas tanganku.” Sehun tertawa kikuk.

Suho menghembuskan napas lega. “Kau ini, membuat orang khawatir saja.”

“Maaf, hyung.

“Sudahlah, ayo ke ruang tamu. Aku akan melakukan beberapa pemeriksaan kepadamu.”

Suho memeriksa hasil pemeriksaan singkatnya kepada Sehun dan mengangguk beberapa kali. Dari ekspresinya, dia terlihat cukup puas dengan hasil yang ia dapatkan. “Hasilnya sangat bagus, kau benar-benar sehat. Kalau hasilnya seperti ini terus maka kemungkinan kami hanya mengawasimu sampai tiga bulan ke depan. Oh iya, apa kau tidak mengalami sesuatu yang aneh seperti ada bagian dari tubuhmu yang berubah atau yang lain?” Tanyanya, Sehun refleks menggeleng sebagai jawaban.

“Tidak ada,” tambahnya kemudian, Suho pun mengangguk paham sambil menambahkan catatan pada laporannya.

Hyung, boleh aku bertanya sesuatu?” Sehun berbicara lagi setelah cukup lama.

“Tentu,” jawab Suho sambil merapikan alat-alat yang telah ia gunakan untuk memeriksa Sehun tadi. “Tanyakan saja.”

Hyung, apa benar kalau aku sembuh karena darah vampir?”

Aktifitas Suho terhenti sejenak, dia menatap Sehun dengan pandangan yang sulit. “Dari mana kau mendengar itu?” Suho balik bertanya, matanya sama sekali tidak meninggalkan Sehun yang terlihat kebingungan.

“Aku tidak sengaja,”

Suho mendesah ringan, lalu menggenggam tangan Sehun. “Ikut aku,”

-oOo-

Suho mengajak Sehun ke apartemennya yang berada lantai enam. Pria itu kemudian mempersilakan Sehun duduk selagi dia mengambil sesuatu yang katanya adalah hal yang akan memberi tahu Sehun hal yang telah menyembuhkan sakitnya.

“Seharusnya aku tidak boleh memberitahukan ini kepadamu, tapi karena kau sudah tahu aku rasa tidak apa-apa. Lagi pula kau adalah orang pertama yang berhasil selamat dan sembuh.” Suho memberikan sebuah map yang didalamnya terlampir catatan-catatan yang tidak terlalu dimengerti oleh Sehun.

“Itu data-data penderita leukemia yang menjadi objek penelitian kami. Semuanya sama sepertimu, tidak memiliki keluarga. Dan mereka semua… mati,” Suho menjelaskan. Sehun menatapnya terkejut. “Ya, aku tahu kau saat ini mungkin menganggap kami keji. Bahkan mungkin bisa dibilang apa yang kami lakukan ini bisa dimasukkan ke dalam kategori kejahatan genosida*. Tapi memang tidak bisa dipungkiri jika mereka yang hidup sebatang kara bisa dimanfaatkan dengan baik, ketika percobaan kami gagal, maka kami akan tinggal mengubur mereka atau pun mengkremasinya dan membuang abu mereka ke laut tanpa ada yang akan merasa kehilangan. Tapi sesungguhnya kami hanya ingin mencari formula agar mereka bisa sembuh dari penyakit itu. Mereka akan dianggap berjasa.”

Sehun diam, terlalu terkejut dengan fakta yang baru saja didengarnya sehingga dia hanya memandangi kertas-kertas yang ada ditangannya dengan tatapan nanar. Beberapa saat berlalu seperti itu hingga satu kertas jatuh kemudian menyita keterpakuan Sehun dan Sehun pun mengambilnya.

Sebuah foto. Foto seseorang yang sangat familiar.

“Dia Xiao Lu, vampire yang darahnya digunakan untuk menyembuhkanmu.”

Dan orang yang tidak sengaja ditabraknya waktu itu.

.

.

.

.

TBC

Author’s note:

*genosida: pembunuhan manusia secara massal/besar-besaran.

Terima kasih telah membaca~!

520!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s